Tampilkan postingan dengan label Agriculture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agriculture. Tampilkan semua postingan

MAKANAN ORGANIK

>> Kamis, 04 Juni 2009

Tren Makanan Organik
Berbagai penyakit pada 10 tahun ini menunjukkan angka yang mengkhawatirkan seperti jantung, kolestrol, kanker, dan typhus meningkat dengan pesat. Tak pelak jumlah korban meninggal dan yang berada dalam stadia lanjut di rumah sakit di Jakarta terus melonjak. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi ? menurut lembaga survey Indonesia hal ini dikarenakan oleh pola makan masyarakatnya yang tidak sehat. Makanan berlemak, seperti santan, daging, makanan cepat saji, dll. Selain itu makanan berupa sayuran yang kini beredar di pasaran mengandung pestisida yang bahanya dapat terlihat pada usia lanjut. Hal ini dikarenakan akumulasi dari residu yang terkandung oleh pestisida yang digunakan pada sayuran.
Dengan keadaan demikian masyarakat membutuhkan makanan sehat, salah satunya adalah makanan organic. Apakah yang dimaksud makanan organic? Makanan organic adalah makanan yang diproduksi berupa buah, sayur, dll yang dalam penanamannya tidak menggunakan bahan kimia sedikitpun seperti pupuk dan pestisida, menurut konsultan diet di Baylor All Saints Medical di Amerika, tanaman itu juga tidak boleh diproses menggunakan iradiasi atau penambahan hormone. Di pasar swalayan kini marak penjualan sayuran organic. Harga dari sayuran ini tidaklah murah, hampir tiga sampai sepuluh kali lipat dari biasanya. Untuk itu kita harus mengecek label produk organic apapun untuk mengetahui dengan pasti apa yang akan dikonsumsinya.
Menurut USDA, produk berlabel “100 persen organik” berarti produk tersebut hanya boleh mengandung unsure organic dengan pengecualian air dan garam. Sedangkan produk berlabel “organic” berarti produk tersebut mengandung unsur organic minimal 95 persen. Pada produk dengan label “dibuat menggunakan unsure organic” berarti produk tersebut setidaknya 70 persen mengandung unsure organic. Mengingat harga makanan yang mahal sudah sebaiknya konsumen mengerti akan hal ini jangan samapai makanan yang dibelinya tidak sama sehat dengan produk yang lain. Menurut Mullins, yang pening adalah mengkonsumsi lima porsi sayur dan buah tiap hari. Baik organic ataupun anorganik.

Read more...

AGROINDUSTRI KEDELAI

>> Selasa, 02 Juni 2009

Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai sumber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Sama halnya dengan dua tanaman pangan sebelumnya, berbagai alternatif potensi untuk meningkatkan nilai tambah kedelai termasuk produk sampingannya dapat dilakukan melelui pemanfaatan teknologi pasca panen. Kedelai dapat diolah untuk menghasilkan berbagai produk yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia, baik sebagai produk pangan, farmasi (obat-obatan), aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan sebagai pakan (Gambar 1). Bahkan bungkil kedelai salah satu produk samping kedelai yang pemanfaatannya sebagai bahan baku pembuatan pakan hampir 100% masih diimpor.
Prospek pengembangan kedelai di Indonesia terutama untuk mengisi pasar domestik masih sangat terbuka luas, mengingat produksi kedelai dalam negeri masih jauh dibawah jumlah permintaan domestik. Pada tahun 1990, produksi domestik mampu mengisi pasar domestik sekitar 83,32 persen, dan sisanya 26,68 persen didatangkan dari impor. Kemampuan produksi dalam negeri untuk mengisi pasar domestik semakin menurun, setelah tahun 2000 lebih dari 50 persen kebutuhan domestik dipenuhi dari impor, dan bahkan pada tahun 2004 sudah mencapai 65 persen. Peluang pasar domestik diperkirkan terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan kedelai dan produk turunannya. Walaupun produktivitasnya masih rendah, pada tingkat harga yang relatif stabil (Rp 3.000/kg) secara finansial usahatani kedelai cukup menguntungkan, yaitu Rp 2,05 juta/ ha pada tingkat B/C 2,14. Namun demikian, usaha ini belum mampu bersaing dalam upaya meningkatkan substitusi kedelai impor. Melalui perbaikan produktivitas merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya saing komoditas ini.
Industri berbasis kedelai yang telah berkembang adalah tempe, tauco, kecap, tahu dan susu. Namun demikian produksi kedelai Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 35 persen, dan sebanyak 55 persen masih diimpor. Sehingga program pengembangan kedelai dalam jangka pendek adalah meningkat produksi dalam negeri dalam upaya mengurangi impor untuk memenuhi kebutuhan dari industri yang telah berkembang selama ini. Baik dalam jangka menengah maupun panjang, program pengembangan kedelai tetap diarahkan dalam meningkatkan substitusi impor untuk memenuhi industri minyak goreng, mentega putih dan margarin yang diharapkan mulai berkembang dalam program jangka menengah dan industri obat-obatan dan kecantikan yang berbasis kedelai yang diharapkan tumbuh dalam program jangka panjang.
1.2 Penerapan Aspek Manajerial Agroindustri Kedelai
1.2.1 Peluang Bisnis
Kebutuhan kedelai di dalam negeri terus meningkat seiring pesatnya perkembangan industri pangan dan pakan olahan berbahan baku kedelai. Sebagai bahan pangan, kedelai mengandung protein nabati yang sangat tinggi nilai gizinya, mengandung zat radikal bebas yang tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan dan sangat aman untuk dikonsumsi. Sekitar 80% penduduk Indonesia (terutama di Jawa) mengkonsumsi makanan olahan kedelai (fermentasi dan non fermentasi), seperti: susu kedelai, tempe, tahu, kecap, tauco, abon kedelai, daging tiruan/meat analog (untuk vegetarian), minyak dan bungkil kedelai, dan berbagai bentuk makanan ringan/snack (keripik, rempeyek, dll). Berbagai produk kosmetik dan kesehatan mencantumkan kedelai dalam komposisi bahan bakunya. Berkembangnya industri peternakan dan pakan ternak yang menggunakan bahan baku bungkil kedelai sebagai sumber protein penting dalam komposisi pakan unggas setelah jagung (Tangendjaja, et al, 2003). Selama dua dekade terakhir, trend permintaan kedelai mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Produksi kedelai domestik hanya sekitar 0,71 juta ton sedang total kebutuhan mencapai 2,02 juta ton (tahun 2004), sehingga dipenuhi dengan mengimpor 1,13 juta ton (Damardjati, et al, 2005). Relatif rendahnya produksi kedelai domestik diprediksi akibat merosotnya harga riil kedelai di tingkat produsen. Penurunan harga riil diduga karena kebijakan liberalisasi impor kedelai dengan tarif 0% yang menyebabkan harga kedelai impor lebih murah dibanding harga kedelai lokal.
Dari segi perolehan pendapatan bersih sekitar Rp.2,1 juta/ha per musim tanam, sebenarnya prospek usahatani kedelai relatif baik. Peluang pengembangan agribisnis kedelai domestik juga masih sangat terbuka mengingat ketersediaan sumberdaya lahan, kesesuaian ekosistem lahan pertanian di Indonesia, dan tingginya market demand bagi pengusahaan kedelai. Untuk peningkatan produksi dan produktivitas kedelai, diperlukan strategi kebijakan melalui: perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi dan kualitas produk, pengembangan infrastruktur, serta penguatan dan pemberdayaan kelembagaan pendukungnya terkait petani di perdesaan termasuk dukungan stabilisasi pemasaran dan tingkat harga yang menguntungkan ebagai insentif dan keberpihakan bagi petani produsen).
1.2.2 Strategi Bisnis
Dalam merencanakan agribisnis kedelai, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah ketersediaan bahan baku kedelai itu sendiri. Bila kita akan memulai dari proses budidaya untuk memperoleh bahan baku , hal- hal yang harus diketahui adalah :

1. Agronomi
Survai Lahan
Lingkungan
Persiapan Lahan
Pengolahan Lahan
Kandungan Hara
pH Tanah
Curah Hujan dan Irigasi
Cahaya Matahari
Penanaman
Pemupukan
Pengendalian Hama
Pengendalian Penyakit
Penyiangan
Panen Pascapanen
2.Input Budidaya :
Benih
Pupuk
Insektisida
Pestisida
Fungisida
Herbisida
Organik
Tenaga Kerja
3. Pemasaran
4. Pengolahan Hasil
5. Mekanisasi Pertanian
6. Keuangan
7. Kemitraan

Untuk pengolahan dan persiapan lahan usahatani kedelai umumnya dapat dilakukan dengan sistem borongan atau mekanisasi (traktor) dengan biaya sekitar Rp.700.000 hingga Rp.900.000/ha (tergantung tingkat kesulitan lahan/kondisi fisik dan letak lahan usahatani). Sedang biaya penanaman bisa berbeda antar petani, yang umumnya menggunakan tenaga kerja wanita dengan biaya borongan sekitar Rp.200.000 hingga Rp.350.000/ha. Belum termasuk berbagai biaya lain (input saprodi, pemeliharaan, panen dan pasca panen) yang dikeluarkan sebelum mengutip hasil panen, sehingga dapat diprediksi besarnya biaya (modal) yang dibutuhkan untuk memulai usahatani kedelai tersebut. Selanjutnya kita dapat menentukan sendiri pengolahan pasca panen kedelai untuk meningkatkan pendapatan yang lebih baik daripada produk tanpa diolah. Pemanfaatan teknologi industri penting untuk diterapkan disini. Produk – produk olahan pasca panen kedelai, dapat dilihat pada uraian sebelumnya.

Untuk pemasaran, kita dapat memanfaatkan bentuk kemitraan dengan para pedagang, ataupun menjual sendiri langsung. Fenomena pasar komoditas kedelai nasional sangat ditentukan oleh kinerja produksi domestik dan kegiatan impor. Kinerja produksi yang dimaksud terutama ditunjukkan oleh kemampuan produksi pada sentra-sentra produksi nasional, sementara jumlah impor sangat ditentukan oleh tingkat permintaan domestik baik untuk berbagai kebutuhan baik konsumsi, benih dan industri.

Data Departemen pertanian, Direktorat Jenderal Bina Bina Usahatani dan Pengolahan Hasil Pertanian bahwa sampai tahun 2001 secara nasional menunjukkan adanya disparitas neraca perdagangan kedelai dan hasil ikutan/olahannya. Tampak bahwa jumlah dan macam bentuk/produk ikutan/olahan kedelai yang diimpor lebih banyak dibanding ekspor yang hanya terbatas tepung kedelai. Antara tahun 1990-2001, laju impor masing-masing 6,8%/thn untuk kedelai kuning, 15,5% untuk kedelai hitam dan 25,1% untuk bungkil kedelai .
Tingginya impor merupakan penggambaran tentang ketidakcukupan produksi dalam negeri untuk mengimbangi permintaan yang terus meningkat. Permintaan dimaksud untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi dan industri pengolahan bahan makanan dalam negeri (industri tahu/tempe), juga industri pakan ternak yang memanfaatkan kedelai sebagai bahan baku (bungkil kedelai).

Read more...

Peran Agroindustri Sebagai Leading Sector Agribisnis

Sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi terbesar dan terpenting dalam perekonomian nasional Indonesia . Sektor agribisnis menyerap lebih dari 75% angkatan kerja nasional termasuk didalamnya 21,3 juta unit usaha skala kecil berupa usaha rumah tangga pertanian. Apabila seluruh anggota rumah tangga diperhitungkan maka sekitar 80% dari jumlah penduduk nasional menggantungkan hidupnya pada sector agribisnis. Peranan sector agribisnis yang demikian besar dalam perekonomian nasional memiliki implikasi penting dalam pembangunan ekonomi nasional kedepan ( Saragih, 1997). Pernyataan tersebut semestinya dapat menjadi gambaran betapa besarnya potensi yang dimiliki oleh Indonesia di sector agribisnis, namun sampai saat ini pada kenyataannya Negara kita masih belum bisa memanfaatkan potensi tersebut secara optimal. Salah satu prestasi yang pernah diraih adalah tahun 80 an kita berhasil mencapai swasembada beras, namun sayangnya belum diikuti dengan swasembada pangan lainnya. Pengamatan empiris menunjukkan bahwa tidak banyak negara didunia ini yang dapat mencapai tahapan pembangunan berkelanjutan yang digerakkan oleh sector industri (barang dan jasa) berbasis ilmu dan teknologi modern tanpa didahului dengan pencapaian tahapan pembangunan pertanian yang andal dan kuat. Bahkan, banyak negara didunia yang pendapatan per kapitanya kurang dari US$ 2.500, bidang pertanian masih menjadi sector yang sangat penting bagi perekonomian nasionalnya.
Belum berhasilnya negara Indonesia membangun negara yang berbasis pertanian memang tak lepas dari berbagai kendala dan factor. Pada masa lalu, khususnya beberapa tahun menjelang krisis ekonomi ( 1997-1998), sector pertanian ternyata lebih diarahkan sebagai sektor penunjang dan pendukung pembangunan dan tidak dijadikan sebagai sektor andalan atau basis pembangunan ekonomi nasional . Akibatnya, walaupun tingkat produksi berbagai komoditas pertanian berhasil ditingkatkan dan pertumbuhan ekonomi nasional juga tinggi, tetapi pertumbuhannya tidak merata. Pertumbuhan ekonomi hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu dan tidak berkelanjutan. Seharusnya bagi sebagian besar negara didunia, sector pertanian menjadi tulang punggung bagi tegaknya struktur ekonomi nasional dan berlangsungnya pemerataan pendapatan antar berbagai lapisan masyarakat secara adil ( Saragih, 2004 ). Menurut analisis para ahli, diduga bahwa saklah satu akar penyebab krisis ekonomi adalah penyimpangan pelaksanaan pembangunan dari rencana jangka panjangnya. Sektor industri dan jasa dibangun tidak padu padan dengan sector pertanian. Pembangunan nasional hanya terfokus pada pembangunan sector industri berspektrum luas tanpa mempedulikan keterkaitannya dengan sector pertanian, padahal sector pertanian memiliki berbagai kelebihan. Pada awal krisis ekonomi sector pertanian tetap tumbuh positif sebesar 0,22 %, sementara ekonomi nasional mengalami minus sebesar 13,68 %. Ketiadaan keselarasan antara pembangunan sector industri dengan sector pertanian ini pulalah yang mengakibatkan keberhasilan peningkatan produksi pertanian mengalami kelebihan produksi di saat musim panen pasca swasembada beras sehingga harganya jatuh di pasaran.
Menurut Cramer dan Jensen ( 1991 ), keterpaduan dalam system agribisnis sangat penting peranannya dalam industri berbasis agribisnis. Agribisnis merupakan subsektor yang luas meliputi industri hulu sector pertanian sampai industri hilir. Industri hulu adalah industri yang memproduksi alat-alat dan mesin pertanian serta industri sarana produksi yang digunakan dalam proses budidaya pertanian. Industri hilir merupakan industri yang mengolah hasil pertanianmenjadi bahan baku atau barang yang siap dikonsumsi atau merupakan industri pasca panen dan pengolahan hasil pertanian. Dengan pengembangan agroindustri yang merupakan bagian dari rantai agribisnis akan dicapai nilai tambah yang berdampak positif terhadap penerimaan dan pendapatan petani yang mengadopsinya. Disisi lain, agroindusti merupakan usaha meningkatkan efisiensi sector pertanian hingga menjadi kegiatan yang sangat produktif melalui proses modernisasi pertanian. Melalui modernisasi disektor agroindustri dalam skala nasional, penerimaan nilai tambah dapat ditingkatkan sehingga pendapatan ekspor akan lebih besar lagi. Sebagai contoh CPO diolah menjadi biodisel dan bahan baku kosmetika serta obat-obatan , karet diolah menjadi ban kapal terbang atau ban radial bermutu tinggi, biji kakao diolah menjadi makanan olahan, the diolah menjadi katekin / obat kanker, dan kedelai diolah menjadi nata de soya.
Karakteristik agroindustri dalam agribisnis memiliki kelebihan dibandingkan dengan industri-industri lainnya seperti otomotif, elektronika dan industri dirgantara. Berikut ini beberapa karakteristik agroindustri :

- Memiliki keterkaitan yang kuat , baik dengan industri hulu maupun industri hilir.
- Menggunakan sumber daya alam yang ada dan dapat diperbarui serta lebih banyak tenaga kerja yang dilibatkan, baik yang berpendidikan maupun yang tidak kurang berpendidikan. Hal ini menjadi penting dalam kerangka pelestarian sumber daya alam dan daya dukung lingkungan terhadap kehidupan. Penggunaan sumber daya yang dapat diperbarui menunjukkna bahwa agroindustri dapat dikembangkan dalam jangka panjang dan kapasitas produksinya dapat ditingkatkan seiring dengan perkembangan teknologi pengelolaan sumberdayanya.
- Mampu memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, baik dipasr domestic maupun dipasr internasional, khususnya pertanian tropika.
- Dapat menampung tenaga kerja dalam jumlah besar. Hal ini dibuktikan setidaknya dalam masa krisis ekonomi tahun 1997, yaitu ketika setor pertanian mampu menampung tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan kerja dari sector industri manufaktur.
Produk agroindustri pada umumnya bersifat cukup elastis sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat yang berdampak semakin luasnya pasar, khususnya pasar domestic.

Read more...